Utama > Isu Semasa, Tazkirah > Peringatan sempena kisah luar biasa

Peringatan sempena kisah luar biasa

Assalamualaikum..setiap tahun 27 Rejab akan tiba mengingatkan kita kisah mukjizat Rasulullah SAW yang amat luar biasa terjadi pd sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.

Peristiwa Isra’ bersumber dari Al-Qur’an, Surat Al-Isra’ (17) ayat 1 :

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW

Sebelum peristiwa tersebut berlaku, kaum kafir Quraisy meminta hal-hal yang aneh kerana mereka tidak percaya Nabi Muhammad SAW seorang nabi utusan Allah..

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. (QS. Bani Israil : 90 – 93)

Tetapi Rasulullah SAW menjawabnya dengan bijaksana,

“Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Bani Israil: 93).

Dan setelah Rasulullah mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj lalu menceritakan kepada mereka, adakah mereka mempercayainya? Pastinya TIDAK..bahkan ada yang mengatakan Nabi gila walaupun Nabi sudah memberikan bukti-bukti atas apa yang telah dia alami (Isra’ Mi’raj)

Masjidil Aqso

Mengapa di Masjidil Aqso? Sesungguhnya ada hikmah yang Allah ingin lihatkan kepada kita :-

  1. Bahawa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristian menolak Nabi Muhammad, kerana mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka mmg perkauman, kerana melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berda’wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berda’wah di sekitar Palestin. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.

  2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai “pembangkit” ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin “melemah” karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.

  3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebahagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, kerana pada saat itu da’wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan da’wah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.

Surah An Najm ayat 12 -18 :-

[12]
Jika demikian, patutkah kamu hendak membantahnya mengenai apa yang telah dilihatnya itu?
[13]
Dan demi sesungguhnya! (Nabi Muhammad) telah melihat (malaikat Jibril, dalam bentuk rupanya yang asal) sekali lagi,
[14]
Di sisi “Sidratul-Muntaha”;
[15]
Yang di sisinya terletak Syurga “Jannatul-Makwa”.
[16]
(Nabi Muhammad melihat jibril dalam bentuk rupanya yang asal pada kali ini ialah) semasa ” Sidratul Muntaha” itu diliputi oleh makhluk-makhluk dari alam-alam ghaib, yang tidak terhingga.
[17]
Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak berkisar daripada menyaksikan dengan tepat (akan pemandangan yang indah di situ yang diizinkan melihatnya), dan tidak pula melampaui batas.
[18]
Demi sesungguhnya, ia telah melihat sebahagian dari sebesar-besar tanda-tanda (yang membuktikan luasnya pemerintahan dan kekuasaan) Tuhannya.

Hikmah Isra’-Mi’raj
Hikmah terpenting dari peristiwa Isra’-mi’raj ialah, selain mengingatkan kita akan pentingnya peranan solat bagi umat Islam sebagai cara yang paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti disabdakan Rasulullah SAW bahawa

“Assalatu mi’raajul mu’minin” (Solat merupakan mi’rajnya kaum mu’minin),

peristiwa Isra’-Mi’raj juga sebagai ujian keimanan bagi kaum muslimin. Isra’-Mi’raj terjadi satu tahun sebelum peristiwa Hijrah, dimana umat Islam dalam keadaan lemah dibawah tekanan musuh yang memaksakan umat Islam hijrah ke Madinah setahun kemudian. Dalam keadaan seperti itulah Tuhan menguji kaum muslimin, sejauh mana keimanan dan kesetiaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. Bagi kaum muslimin yang benar2 beriman akan bertambah teguh imannya, seperti tercermin dari sikap Abu Bakar As-Siddiq RA sahabat dekat Rasulullah SAW ketika ditanya pendapatnya oleh kaum Quraisy tentang peristiwa Isra’-Mi’raj, dengan tegas dia mengatakan: “Jika benar Nabi Muhammad SAW yang mengatakan demikian, lebih dari itupun aku percaya”. Sebaliknya bagi mereka yang imannya lemah, boleh jadi akan bertambah ragu dengan terjadinya peristiwa Isra’-Mi’raj yang oleh kaum Quraisy Mekkah dijadikan alat politik untuk memusnahkan Nabi Muhammad SAW.

Secara kebetulan Isra’-Mi’raj terjadi pada ’aamulhuzni (tahun kesedihan) dimana Rasulullah SAW baru saja ditinggal wafat kedua orang yang sangat berjasa dalam membela perjuangan beliau, ialah isteri tercintanya Khatijah dan pakciknya Abu Talib. Momentum ini dimanfaatkan kaum Quraisy untuk melancarkan provokasi terhadap umat Islam dengan tuduhan Muhamamad telah kecewa, putus asa, gila, mengada-ada dengan mengatakan boleh terbang kelangit dan sebaginya gara2 ditinggal mati isteri dan pakciknya. Dalam keadaan yang sedemikian berat dalam mengatasi tekanan psikologi yang amat sangat memerlukan pertolongan Tuhan, tiba2 Nabi Muhammad SAW mendapatkan Wahyu perintah solat. Laksana seorang musafir ditengah hutan belantara yang kehilangan arah tiba2 mendapat kompas penunjuk arah, atau bagaikan seorang yang kehausan di tengah padang pasir tiba2 mendapatkan sumber air yang sejuk.

Sebab, bukankah selama kurang lebih 12 tahun (sebelum Isra’-Mi’raj atau sebelum turunnya perintah solat) Nabi Muhammad SAW telah menanamkan ajaran tauhid (aqidah) terhadap umat Islam tanpa ibadah solat?
Maksudnya, selama itu umat Islam telah mengenal Tuhan sebagai zat Yang Maha Penolong, namun belum memiliki alat komunikasi yang efektif  dengan Tuhan dalam memohon pertolongan. Maka alangkah bahagianya hati umat Islam ketika Rasulullah SAW pertama kali menyampaikan Wahyu tentang perintah s0lat sebagai cara untuk mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Tuhan, seperti tersebut dalam firman Tuhan:

“Mohonlah pertolongan kepada Tuhan dengan cara mendirikan solat dan bersabar”

(QS Al-Baqarah (2): 45)

Jesteru pada saat dimana umat Islam sedang merindukan pertolongan Tuhan. Dengan modal aqidah keimanan yang teguh dan diperkuat oleh ibadah solat dlm mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Tuhan inilah agama Islam mulai menampakkan kehadirannya sebagai “rahmatan lil’aalamin” (penebar rahmat bagi seluruh alam) terutama setelah peristiwa Hijrah ke Madinah.
———————————————–dan————————————————-

Alhamdulillah pada… 28 Rejab 1405…. sy selamat dilahirkan😉

  1. Tiada komen.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: